Tampilkan postingan dengan label oposisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oposisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Januari 2014
Turki dan Suriah, Mengapa?
Hubungan Suriah dan Turki Kian Memburuk.
Turki merupakan negara yang paling keras dalam mengkritik segala bentuk kekejaman dan kebijakan Presiden Suriah, Bashar al Assad, dan juga merupakan salah satu negara yang mendukung intervensi terhadap negara konflik tersebut.
Penggunaan senjata kimia pemerintah Suriah dalam memusnahkan warganya beberapa waktu lalu, akhirnya Pemerintah Assad bersedia menyerahkan senjata kimia mereka. Penyerahan senjata kimia tersebut tidak terlepas dari desakan internasional terhadap kekejaman rezim Assad terhadap rakyat Suriah.
Penyerahan senjata kimia Suriah kepada Organisasi Pelarangan Senjata Kimia PBB (OPCW) pada awal oktober lalu telah sedikit memberikan udara segar bagi rakyat Suriah khususnya warga yang masih bertahan di Suriah.
Bagaimana tidak, penggunaan senjata kimia telah menewaskan secara keji warga Suriah yang tak berdosa dan perbuatan ini juga merupakan pelanggaran perang yang telah ditetapkan oleh organisasi internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Alasan demikian yang membuat Turki menga
Konflik Suriah, Satukan Oposisi
Satukan Koalisi Opisisi, Jatuhkan Assad
Presiden Suriah, Bashar al-aAssad tidak bersedia membuka dialog damai terhadap negaranya. Ingin tetap pada jabatannya, Assad melalui rezimnya terus melakukan pembantaianya tanpa perikemanusiaan.
Sudah hampir memasuki tahun ke 2, konflik bersenjata di Negara Suriah tidak kunjung meredah. Perang saudara ini telah menelan lebih dari 70 ribu korban jiwa, termasuk anak-anak, perempuan dan orang tua lanjut usia.
Kebrutalan rezim Assad terhadap rakyat Suriah terus berlanjut. Seperti yang dikutip oleh sahabatsuriah.com, Awal tahun 2013, The Kurdish Syrian Documentation Center atau Pusat Dokumentasi Kurdi Suriah berhasil menghimpun ada sedikitnya 3742 warga sipil tewas dibantai oleh pasukan rezim Assad.
Syrian Network for Human Rights (SNHR), menyebutkan sebanyak 33 anak bayi syahid. Selain itu sebanyak 297 wanita dan 62 orang warga Suriah yang sudah lanjut usia. Sebanyak 93 tewas karena disiksa.
Jumlah diatas belum termasuk korban tewas akibat pembantaian missal yang dilakukan oleh tentara rezim Assad. Menurut SNHR bahwa Presiden Bashar al Assad harus bertanggung jawab atas pembantaian ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

